Oleh: Much Deiniatur

Menulis skripsi bukan sekadar memenuhi syarat untuk lulus kuliah dari program sarjana, akan tetapi merupakan latihan berpikir ilmiah. Sayangnya, banyak mahasiswa mengalami kesulitan menulis pada bagian yang sangat penting, yakni menulis prior research dan menemukan research gap, atau dalam bahasa sederhananya, bagian yang menjelaskan “apa yang sudah diteliti orang lain dan di mana posisi penelitian saya berada.”
Fenomena ini sering saya jumpai ketika membimbing dan menguji skripsi mahasiswa. Banyak dari mereka hanya menyebutkan tiga penelitian terdahulu, lalu menjelaskan sedikit persamaan dan perbedaannya. Kalimat penutupnya pun hampir seragam: “Penelitian ini berbeda karena menggunakan objek yang lain.” Selesai. Padahal, cara seperti ini belum cukup untuk menunjukkan pemahaman terhadap peta penelitian yang ada.
Kesalahan umum lainnya adalah mahasiswa tidak mampu memetakan hubungan antarpenelitian. Mereka membaca setiap artikel secara terpisah, bukan sebagai bagian dari sebuah perjalanan sebuah tema yang saling terkait. Padahal, tugas penulis ilmiah bukan hanya meringkas, melainkan juga mensintesis yaitu kemampuan melihat sebuah pola, tren, kontradiksi, dan arah baru dari berbagai penelitian sebelumnya. Tanpa kemampuan ini, bagian prior research akan tampak seperti daftar ringkasan, bukan argumen ilmiah yang mengarah pada munculnya research gap.
Lebih jauh, banyak mahasiswa salah memahami makna research gap. Mereka mengira celah penelitian hanyalah “hal yang berbeda” dari penelitian sebelumnya. Padahal, research gap adalah ruang kosong pengetahuan atau sesuatu yang belum dijawab, belum dieksplorasi, atau masih menimbulkan pertanyaan baru. Celah ini bisa muncul karena perbedaan konteks, pendekatan, populasi, atau hasil penelitian yang masih bertentangan.
Masalah ini tidak semata karena mahasiswa malas membaca, tetapi lebih pada kurangnya latihan membaca kritis dan membangun keterkaitan antarpenelitian. Di era digital, sebenarnya sudah banyak alat bantu yang bisa dimanfaatkan, seperti Mendeley, Connected Papers, atau Research Rabbit, yang membantu memetakan jaringan penelitian. Sayangnya, alat-alat ini belum banyak diperkenalkan secara sistematis di kelas.
Melihat permasalahan ini, saya kira perlu ada perubahan cara pandang dalam membimbing mahasiswa menulis skripsi. Pembimbing tidak cukup hanya menilai hasil akhir, tetapi perlu melatih kebiasaan ilmiah mereka sejak tahap awal yakni mulai dari membaca jurnal, membuat literature map, hingga menuliskan alasan logis mengapa penelitiannya penting. Salah satu metode sederhana adalah dengan membuat literature review matrix, yaitu tabel yang berisi nama peneliti, tahun, metode, temuan, dan celah penelitian. Dengan cara ini, mahasiswa bisa lebih mudah melihat di mana letak gap penelitiannya.
Singkatnya, meningkatkan kemampuan menulis prior research dan menemukan research gap sejatinya adalah bagian dari membangun budaya riset yang sehat di perguruan tinggi. Mahasiswa perlu dilatih untuk banyak membaca penelitian terdahulu dan melakukan sintesis dari apa yang dibacanya. Lembaga juga harus menyediakan langganan jurnal yang bereputasi agar mahasiswa mendapatkan akses penelitian-penelitian terdahulu yang berkualitas dan terbaru.
Much Deiniatur
Dosen Tadris Bahasa Inggris, UIN Jurai Siwo Lampung
