{"id":627,"date":"2025-12-26T06:28:14","date_gmt":"2025-12-25T23:28:14","guid":{"rendered":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/?p=627"},"modified":"2025-12-26T06:31:49","modified_gmt":"2025-12-25T23:31:49","slug":"ketika-skripsi-ptk-masih-terjebak-pada-kkm","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/ketika-skripsi-ptk-masih-terjebak-pada-kkm\/","title":{"rendered":"Ketika Skripsi PTK Masih Terjebak pada KKM"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-628\" src=\"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-26-at-06.16.51-300x128.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"128\" srcset=\"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-26-at-06.16.51-300x128.jpeg 300w, https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-26-at-06.16.51-1024x438.jpeg 1024w, https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-26-at-06.16.51-768x328.jpeg 768w, https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-26-at-06.16.51-1536x657.jpeg 1536w, https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-26-at-06.16.51.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Setiap tahun, banyak mahasiswa Tadris Bahasa Inggris (TBI) UIN Jurai Siwo Lampung memilih Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai bentuk skripsinya. Pilihan ini wajar, karena PTK dekat dengan dunia guru dan ruang kelas. Mahasiswa turun langsung ke sekolah, mengajar Bahasa Inggris, mencoba metode tertentu, lalu menuliskan keberhasilannya dalam mengajar dalam dua siklus.<\/p>\n<p>Namun, ketika membaca satu per satu skripsi PTK mahasiswa, ada satu hal yang sering muncul dan berulang, yakni KKM. Hampir selalu tertulis bahwa penelitian dinyatakan berhasil jika sekian persen siswa mencapai nilai di atas KKM, biasanya 70 atau 75. Pola ini seolah sudah menjadi \u201cpakem\u201d yang jarang dipertanyakan.<\/p>\n<p>Padahal, kurikulum yang saat ini berlaku sudah berubah. Sejak diterapkannya Kurikulum Merdeka atau yang sekarang disebut Kurikulum Nasional, sekolah tidak lagi diwajibkan menetapkan passing grade atau KKM dengan angka pasti. Penilaian tidak lagi berfokus pada lulus atau tidak lulus, tetapi pada perkembangan belajar siswa. Di sinilah persoalan mulai terasa, mengapa skripsi PTK mahasiswa masih menggunakan KKM, sementara praktik kurikulum di sekolah sudah meninggalkannya?<\/p>\n<p>Jika ditelusuri lebih jauh, penggunaan KKM dalam PTK sebenarnya berasal dari kebiasaan lama. Dulu, keberhasilan pembelajaran sering diukur dengan angka. Jika nilai siswa naik dan melampaui KKM, pembelajaran dianggap berhasil. Cara berpikir ini kemudian terbawa ke dalam PTK mahasiswa, bahkan ketika konteks kurikulumnya sudah berbeda.<\/p>\n<p>Masalahnya, PTK sejatinya bukan penelitian untuk menentukan siapa yang lulus dan siapa yang tidak. PTK adalah cerita tentang upaya guru memperbaiki pembelajaran. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, perbaikan itu bisa berupa siswa yang awalnya diam mulai berani berbicara, pengucapan yang semula kacau menjadi lebih jelas, atau kelas yang tadinya pasif berubah lebih hidup. Semua hal ini sering kali tidak bisa diwakili oleh satu angka KKM.<\/p>\n<p>Bayangkan seorang siswa yang awalnya tidak berani mengucapkan satu kalimat pun dalam Bahasa Inggris. Setelah dua siklus tindakan, ia mulai berani berbicara meski masih banyak kesalahan. Secara angka, mungkin nilainya belum melewati KKM. Tetapi secara pembelajaran, bukankah itu sebuah kemajuan besar?<\/p>\n<p>Di sinilah pentingnya cara pandang baru dalam PTK mahasiswa TBI. Keberhasilan penelitian tidak harus selalu dibuktikan dengan \u201c75% siswa tuntas KKM\u201d. Keberhasilan bisa dilihat dari perubahan, progres, dan perbaikan. Nilai boleh tetap ada sebagai data pendukung, tetapi tidak perlu dijadikan satu-satunya penentu berhasil atau tidaknya penelitian.<\/p>\n<p>Sebagai gantinya, mahasiswa bisa menceritakan bagaimana kemampuan speaking siswa berkembang dari pra-tindakan ke siklus berikutnya. Bisa juga ditunjukkan melalui rubrik sederhana, yaitu siapa yang mulai berani berbicara, siapa yang pelafalannya membaik, dan siapa yang masih perlu pendampingan. Cerita-cerita kecil inilah yang justru menunjukkan ruh PTK yang sebenarnya.<\/p>\n<p>Masih digunakannya KKM dalam skripsi PTK mahasiswa juga menjadi pengingat bagi kita semua, dosen pembimbing, penguji, dan pengelola prodi, bahwa bimbingan skripsi perlu terus disesuaikan dengan arah kebijakan pendidikan. Mahasiswa tidak sepenuhnya salah, sering kali mereka hanya mengikuti contoh skripsi sebelumnya.<\/p>\n<p>Pada intinya, skripsi PTK mahasiswa Tadris Bahasa Inggris seharusnya tidak sibuk membuktikan bahwa siswa \u201ctuntas KKM\u201d, tetapi lebih jujur menceritakan bagaimana pembelajaran diperbaiki. Ketika PTK dipahami sebagai proses reflektif, bukan sekadar laporan angka, maka skripsi mahasiswa tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga bermakna dalam pembelajaran.<\/p>\n<p>Ditulis oleh: Much Deiniatur.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap tahun, banyak mahasiswa Tadris Bahasa Inggris (TBI) UIN Jurai Siwo Lampung memilih Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai bentuk skripsinya. Pilihan ini wajar, karena PTK dekat dengan dunia guru dan ruang kelas. Mahasiswa turun langsung ke sekolah, mengajar Bahasa Inggris, mencoba metode tertentu, lalu menuliskan keberhasilannya dalam mengajar dalam dua siklus. Namun, ketika membaca satu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,9],"tags":[],"class_list":["post-627","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-akademik","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/627","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=627"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/627\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":630,"href":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/627\/revisions\/630"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=627"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=627"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ftik.metrouniv.ac.id\/tbi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=627"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}