Tadris IPS Hadirkan Dosen Tamu, Bahas Representasi Budaya Lokal sebagai Sumber Belajar IPS

Metro, 13 September 2026 — Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (Tadris IPS) menyelenggarakan kegiatan Dosen Tamu dan Tenaga Ahli Tadris IPS dengan mengangkat tema “Representasi Budaya Lokal sebagai Sumber Belajar IPS”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai hubungan antara budaya lokal, kehidupan sosial masyarakat, dan pembelajaran IPS. Kegiatan tersebut menghadirkan Deri Ciciria, M.Hum. dari Universitas PGRI Bandar Lampung sebagai narasumber. Sementara itu, kegiatan dipandu oleh Dewi Wulandari selaku moderator, kegiatan tersebut di Ikuti oleh Kaprodi Tadris IPS Ibu Anita Lisdiana, M.Pd serta Sekertaris Prodi Ibu Atik Purwasih, M.Pd dan juga Mahasiswa Tadris IPS angkatan 24 dan 25. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, penyampaian pengantar oleh moderator, kemudian dilanjutkan dengan sesi penyampaian materi dan interaksi bersama peserta.

Pada awal penyampaian materi, narasumber mengajak mahasiswa untuk melihat berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya melalui pertanyaan sederhana mengenai aktivitas mahasiswa di media sosial, khususnya TikTok. Pertanyaan tersebut menjadi pengantar untuk membahas bagaimana seseorang melihat, memilih, dan memahami berbagai informasi maupun budaya yang ditampilkan melalui media sosial. Narasumber menjelaskan bahwa apa yang dilihat melalui media tidak hanya berupa gambar, video, bahasa, atau informasi semata, tetapi juga dapat membentuk cara seseorang dalam memandang dan memberikan makna terhadap suatu hal.

Dari pembahasan tersebut, mahasiswa kemudian diperkenalkan dengan konsep representasi, yaitu bagaimana sesuatu ditampilkan, dimaknai, dan dipahami. Representasi tidak hanya membicarakan mengenai “apa” yang ditampilkan, tetapi juga bagaimana dan mengapa suatu makna dapat terbentuk. Dalam proses tersebut terdapat berbagai unsur yang perlu diperhatikan, seperti simbol atau tanda, konteks atau media, serta makna yang berkaitan dengan identitas dan status. Pembahasan mengenai representasi selanjutnya dikaitkan dengan pemikiran Stuart Hall. Narasumber menjelaskan bahwa gambar, bahasa, simbol, maupun media tidak sekadar menjadi cerminan dari kenyataan. Representasi juga dapat membentuk makna dan identitas serta berkaitan dengan perbedaan dan kekuasaan.
Melalui materi tersebut, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa suatu objek atau budaya yang ditampilkan melalui media dapat memiliki pemaknaan yang berbeda, bergantung pada konteks dan cara seseorang melihatnya. Pemahaman ini menjadi penting bagi mahasiswa Tadris IPS karena proses pembelajaran tidak terlepas dari bagaimana peserta didik memahami berbagai fenomena sosial dan budaya yang berada di lingkungan mereka. Salah satu bagian penting dalam kegiatan ini adalah pembahasan mengenai budaya lokal sebagai sumber belajar IPS. Budaya lokal tidak hanya dipandang sebagai warisan yang perlu diketahui atau dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan sosial yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Di dalam budaya lokal terdapat berbagai nilai, identitas, sejarah, kehidupan sosial, serta hubungan antarmasyarakat yang dapat dikaji melalui pembelajaran IPS. Dengan memanfaatkan budaya lokal sebagai sumber belajar, materi IPS dapat dihubungkan secara langsung dengan kehidupan nyata sehingga peserta didik tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu melihat penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Narasumber juga menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis budaya lokal dapat membantu menumbuhkan identitas dan kesadaran sejarah peserta didik. Selain itu, pendekatan tersebut dapat menjadi ruang untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan toleransi serta mengembangkan keterampilan sosial dan civic competence.
Dalam konteks budaya lokal, pembahasan kemudian diarahkan pada kekayaan budaya Lampung. Beberapa unsur budaya yang menjadi perhatian dalam materi antara lain Siger, Piil Pesenggiri, serta adat Saibatin dan Pepadun. Siger dibahas sebagai salah satu simbol budaya Lampung yang memiliki makna dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Lampung. Sementara itu, Piil Pesenggiri dibahas sebagai nilai dan falsafah hidup masyarakat Lampung yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan sosial dan perilaku masyarakat.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa budaya yang berada di sekitar peserta didik memiliki potensi untuk menjadi bagian dari proses pembelajaran IPS. Nilai dan makna yang terdapat dalam budaya Lampung dapat dikaji untuk membantu mahasiswa maupun peserta didik memahami kehidupan sosial masyarakat secara lebih dekat. Sebagai mahasiswa Tadris IPS yang dipersiapkan menjadi calon pendidik, peserta kegiatan mendapatkan pemahaman bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat dapat diangkat menjadi sumber belajar yang kontekstual dan relevan.

Narasumber mengajak mahasiswa untuk tidak hanya melihat budaya sebagai sesuatu yang diwariskan dari generasi sebelumnya, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan sosial yang dapat dikaji, dipahami, dan dikembangkan dalam pembelajaran. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi berbagai potensi budaya yang ada di lingkungan sekitar dan menghubungkannya dengan materi IPS. Dalam pelaksanaannya, kegiatan berlangsung melalui penyampaian materi dan interaksi bersama peserta. Pembahasan budaya Lampung memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami bagaimana adat, simbol, nilai, dan kehidupan sosial masyarakat dapat direpresentasikan serta dimanfaatkan sebagai bagian dari pembelajaran IPS.
Kegiatan Dosen Tamu dan Tenaga Ahli Tadris IPS ini memberikan pemahaman bahwa pembelajaran IPS dapat dikembangkan melalui berbagai sumber yang berada di sekitar peserta didik. Budaya lokal menjadi salah satu sumber yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial, sehingga penggunaannya dalam pembelajaran dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan realitas masyarakat. Melalui pengenalan terhadap budaya lokal, peserta didik dapat belajar mengenai identitas, nilai, sejarah, hubungan sosial, dan kehidupan masyarakat secara lebih nyata. Hal tersebut sekaligus membuka peluang bagi pembelajaran IPS untuk menjadi sarana dalam mengenalkan dan menghargai budaya daerah kepada generasi muda.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat wawasan mahasiswa Tadris IPS dalam memahami hubungan antara budaya, masyarakat, media, dan pendidikan. Lebih dari sekadar memahami teori, mahasiswa didorong untuk mampu melihat berbagai fenomena budaya di lingkungan sekitar sebagai bagian dari sumber belajar yang dapat dikembangkan secara kontekstual. Dengan demikian, kegiatan Dosen Tamu ini menjadi salah satu ruang akademik bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif sekaligus memperkuat kesiapan mereka sebagai calon pendidik IPS. Pemanfaatan budaya lokal dalam pembelajaran diharapkan tidak hanya membantu peserta didik memahami materi IPS, tetapi juga turut mengenalkan, menghargai, dan menjaga keberadaan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.