Cegah Korupsi dari Hal Kecil, HMPS Tadris IPS Gelar Seminar Pendidikan Moral dan Antikorupsi

Lampung Timur, 20 September 2026 — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Tadris IPS UIN Jurai Siwo Lampung selenggarakan Seminar Pendidikan Moral dan Antikorupsi pada Minggu (20/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Academic Center (GAC) Kampus II, Desa Banjarrejo, Kecamatan Batanghari, Kabupaten Lampung Timur, diikuti oleh lebih dari 100 mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa angkatan 2025 dan 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya HMPS Tadris IPS dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya karakter pendidikan, moral, integritas, serta budaya antikorupsi dalam kehidupan akademik maupun bermasyarakat.
Seminar ini menghadirkan Adi Hartono, S.Pd., Gr. salah satu alumni Prodi Tadris IPS, sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, Kak Adi Hartono membahas pentingnya pendidikan karakter dan antikorupsi sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga memiliki moral, integritas, dan tanggung jawab. Materi yang disampaikan mengangkat tema “Pendidikan Karakter dan Antikorupsi: Strategi Komprehensif Membangun Integritas dan Transparansi Publik.”
Kak Adi menjelaskan bahwa karakter pendidikan di lingkungan kampus memiliki peran penting dalam membentuk peserta didik sebagai generasi yang mampu menghadapi berbagai tantangan sosial di era digital. Menurut materi yang disampaikan, siswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga perlu memiliki karakter yang kuat agar mampu menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki secara bertanggung jawab. Dalam seminar tersebut, mahasiswa diajak melihat berbagai permasalahan yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti titip absen, menyontek, plagiarisme, hingga membahas dana kegiatan organisasi. Hal-hal tersebut menjadi contoh bahwa perilaku tidak jujur dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di lingkungan kampus. Kak Adi juga menekankan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan atau agen perubahan. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari menjaga kejujuran dalam kegiatan akademik, menolak budaya curang, menjalankan organisasi secara transparan, hingga berani menyuarakan kebenaran dan kepentingan masyarakat.
Selain membahas bahaya korupsi, seminar ini juga memperkenalkan sembilan nilai integritas antikorupsi, yaitu kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, kemandirian, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya dipahami sebagai materi seminar, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Kak Adi juga mengajak siswa memahami bahwa membangun karakter tidak cukup hanya dengan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Karakter juga membutuhkan kesadaran serta tindakan nyata. Hal tersebut dijelaskan melalui tiga komponen karakter mulia, yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Siswa diharapkan mampu memahami nilai-nilai moral, memiliki kesadaran untuk berbuat baik, serta membiasakan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut.
Ketua HMPS Tadris IPS UIN Jusila sekaligus inisiator kegiatan, Fajar Shodiq Ibrahim, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi mengenai dampak korupsi terhadap berbagai sendi kehidupan bernegara, khususnya dalam sektor ekonomi. Ia berharap mahasiswa mampu memahami bahwa pemberantasan korupsi tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga atau pemerintah, tetapi juga melibatkan keterlibatan generasi muda.
“Kita semua memahami bahwa korupsi adalah musuh besar negara. Mahasiswa sebagai generasi penerus diharapkan mampu mengimplementasikan peran sebagai agen perubahan , yang dimulai dari mendisiplinkan diri sendiri,” ujar Fajar.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Aburizal Dzikri, menyampaikan bahwa seminar memberikan manfaat bagi mahasiswa karena membuka pemahaman bahwa pendidikan moral dan antikorupsi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Menurut saya, seminar Pendidikan Moral dan Antikorupsi ini bagus dan bermanfaat. Dari seminar ini kita bisa lebih memahami bahwa pendidikan moral dan sikap antikorupsi penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dipelajari sebagai materi saja. Penyampaian materinya juga cukup mudah dipahami dan menambah wawasan kita tentang pentingnya kejujuran, tanggung jawab, dan berani mengucapkan yang benar,” ungkap Aburizal.
Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bagi siswa agar tidak membiasakan diri melakukan tindakan tidak jujur meskipun terlihat sederhana.
“Kegiatan seperti ini juga bagus untuk siswa karena bisa menjadi pengingat agar kita tidak terbiasa melakukan hal-hal kecil yang tidak jujur. Nilai-nilai antikorupsi bisa mulai diterapkan dari diri sendiri dan dari lingkungan sekitar.”
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum HMPS Tadris IPS yang menilai seminar tersebut memberikan pemahaman baru mengenai penerapan sikap antikorupsi dalam kehidupan siswa. Menurutnya, antikorupsi tidak selalu berkaitan dengan tindakan korupsi dalam jumlah besar, tetapi juga dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana seperti kebijaksanaan jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.
“Menurut saya, seminar Pendidikan Moral dan Antikorupsi ini cukup menarik dan bermanfaat. Dari seminar ini saya jadi lebih paham kalau sikap antikorupsi itu sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Jadi, bukan cuma tentang korupsi dalam jumlah besar, tapi dari kebiasaan kita sehari-hari juga.”
Sebagai mahasiswa yang aktif dalam organisasi, ia juga melihat bahwa nilai-nilai yang disampaikan Kak Adi Hartono dapat diterapkan dalam pengelolaan kegiatan kemahasiswaan, terutama dalam hal transparansi dan tanggung jawab.
“Apalagi saya juga ikut dalam himpunan mahasiswa, jadi materi yang disampaikan itu bisa diterapkan banget di organisasi. Misalnya, kalau lagi ngurus uang kegiatan, kita harus jujur dan terbuka, terus kalau dapat tugas ya harus bertanggung jawab. Menurut saya, hal-hal kecil kayak begitu juga termasuk bentuk sikap antikorupsi.”

Seminar ini pada akhirnya menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami bahwa integritas tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Kejujuran dalam menjalankan tugas, kedisiplinan menghadiri perkuliahan, tanggung jawab dalam organisasi, serta keterbukaan dalam mengelola kegiatan merupakan bagian dari upaya membangun karakter antikorupsi sejak berada di lingkungan kampus. Melalui kegiatan tersebut, HMPS Tadris IPS berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan mengenai bahaya korupsi, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai moral dan integritas dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, mahasiswa dapat mempersiapkan diri menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, tanggung jawab, dan komitmen untuk menjadi agen perubahan dalam membangun lingkungan yang jujur dan berintegritas.