Di sebuah bangunan bercat toska di Kelurahan Hadimulyo Timur, Kota Metro, tumpukan botol plastik, kardus, dan ember-ember berisi cairan fermentasi bukan lagi dipandang sebagai barang yang tak berguna. Di tempat itulah, sepuluh mahasiswa Program Studi Tadris Biologi UIN Jurai Siwo Lampung menghabiskan delapan hari untuk belajar satu hal sederhana namun penting: sampah, jika dikelola dengan benar, bisa menjadi sumber kehidupan baru.
Sejak pra-survei pada Rabu, 19 Agustus 2026, hingga penarikan mahasiswa pada Jumat, 4 September 2026, Kelompok 1 menjalani Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Bank Sampah Hatim Berseri, mitra binaan Pegadaian yang sejak 2021 berkembang dari usaha pemilahan sampah rumah tangga sederhana menjadi salah satu percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Metro. Bukan sekadar praktik lapangan, pengalaman ini membawa mahasiswa menyelami empat wajah pengelolaan sampah: dari mekanisme kerjanya, nilai ekonominya, manfaat lingkungannya, hingga perannya dalam merawat kebersamaan warga.

Dari Rumah ke Bank Sampah
Perjalanan sebuah botol plastik atau lembar kardus bekas dimulai jauh sebelum sampai ke tangan pengelola bank sampah. Mahasiswa belajar bahwa di balik proses yang tampak sederhana, sistem pengelolaan sampah di Hatim Berseri ternyata berjalan cukup rapi: setiap sampah yang masuk dicatat berdasarkan nama nasabah atau PT/CV pengirim, kemudian ditimbang menggunakan timbangan duduk digital, dan dipilah sesuai jenis serta nilai ekonomisnya.

Selama delapan hari, mahasiswa turut serta dalam hampir seluruh tahap ini, mulai dari mencatat data barang masuk-keluar, memisahkan tutup botol dari badannya, mengelompokkan kardus, hingga ikut menjemput dan menimbang sampah langsung di lokasi nasabah — termasuk dari Cahaya Bangsa School, Pondok Pesantren Al Abror, dan sejumlah rumah warga. “Kami jadi tahu bahwa sebelum sampah bisa punya nilai, ada proses pendataan dan ketelitian yang panjang di baliknya,” demikian kesan yang berulang kali disampaikan mahasiswa selama kegiatan berlangsung.
Sampah Jadi Rupiah
Di ruang lain bangunan yang sama, sampah-sampah yang telah dipilah menjalani babak kedua: diubah menjadi barang bernilai jual. Prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) diterapkan Hatim Berseri melalui berbagai produk kreatif, mulai dari ecobrick, tas belanja, gantungan kunci dari tutup botol, hingga sofa dan kursi berbahan botol plastik padat.

Mahasiswa turut merasakan langsung proses ini: memilah kardus menjadi vas bunga, menyusun kalender dari tutup botol, mengecat botol bekas agar lebih menarik sebagai bahan pagar tanaman, hingga menyusun ecobrick menjadi kerangka sofa dan kursi. Semua produk ini menjadi bagian dari upaya Hatim Berseri meningkatkan statusnya dari Bank Sampah Unit (BSU) menuju Bank Sampah Induk (BSI), sejalan dengan program modernisasi persampahan yang tengah didorong Pemerintah Kota Metro.
Sampah Organik, Sahabat Lingkungan
Tidak semua sampah berakhir sebagai kerajinan tangan. Sisa makanan dan sampah organik lain diarahkan ke jalur yang berbeda: dimasukkan ke dalam ember tumpuk dan diberi cairan EM4 untuk mempercepat proses penguraian, atau dipisahkan sebagai pakan ternak dan bahan budidaya maggot.

Bagi mahasiswa Biologi, tahap ini menjadi momen paling relevan dengan bangku kuliah. Proses dekomposisi yang biasa dipelajari secara teoretis kini terlihat nyata di depan mata, lengkap dengan perannya dalam menjaga daur materi dan keseimbangan ekosistem di lingkungan sekitar bank sampah.
Merawat Kebersamaan dengan Masyarakat
Pengelolaan sampah di Hatim Berseri tidak berjalan sendiri. Pada Minggu, 23 Agustus 2026, mahasiswa berbaur bersama warga Hadimulyo Timur dalam kegiatan jalan sehat, sembari mengajak masyarakat lebih peduli memilah sampah sejak dari rumah.

Kebersamaan itu berlanjut hingga hari-hari terakhir KKL, saat mahasiswa menyusun poster edukasi, membuat undangan, dan menyebarkannya kepada warga sekitar sebagai persiapan kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah. Bagi mahasiswa, momen-momen ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan pekerjaan satu pihak, melainkan kerja bersama antara pengelola, nasabah, dan masyarakat luas.
Bekal yang Dibawa Pulang
Delapan hari di Bank Sampah Hatim Berseri mengubah cara pandang mahasiswa Kelompok 1 terhadap sesuatu yang selama ini dianggap sepele: sampah. Dari sekadar barang buangan, sampah kini dipahami sebagai bagian dari rantai ekosistem, sumber ekonomi kreatif, sekaligus sarana mempererat hubungan antarwarga. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa Tadris Biologi untuk terus menerapkan kebiasaan memilah dan mengelola sampah, jauh setelah masa KKL berakhir.