Dosen dan Mahasiswa PGMI UIN Jurai Siwo Lampung Dampingi Guru MIN 1 Kota Metro Perkuat Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta

Metro, 26 September 2026 — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Jurai Siwo Lampung melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Pendampingan Penguatan Kompetensi Guru MI dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di MIN Kota Metro”, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di MIN 1 Kota Metro tersebut menjadi bagian dari kontribusi Prodi PGMI UIN Jurai Siwo Lampung dalam mendukung peningkatan kompetensi guru madrasah ibtidaiyah sekaligus memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam proses pembelajaran.

Kegiatan PkM melibatkan dosen Prodi PGMI, yaitu Dea Tara Ningtyas, M.Pd., Rahmad Ari Wibowo, M.Fil.I., Dr. Siti Annisah, M.Pd., Nurul Afifah, M.Pd.I., Ratih Rahmawati, M.Pd., Khodijah, M.Pd., Firma Andrian, M.Pd., dan Randes Rahdian Aziz, M.Pd, Dr. Zusy Aryanti, M.A. Kegiatan juga melibatkan tim mahasiswa PGMI sebagai bentuk kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.

Dalam pembukaan kegiatan, Dekan FTIK UIN Jurai Siwo Lampung menegaskan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta membutuhkan guru yang tidak hanya memiliki kompetensi pedagogik dan profesional, tetapi juga mampu menghadirkan keteladanan, empati, kasih sayang, komunikasi positif, dan pembelajaran yang bermakna di dalam kelas.

“Guru adalah figur yang sangat menentukan bagaimana nilai-nilai cinta tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman belajar peserta didik,” ungkap Dekan FTIK.

Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta tidak cukup dipahami sebagai seperangkat konsep atau materi yang disampaikan kepada peserta didik. Nilai-nilai cinta harus diwujudkan melalui seluruh aktivitas pembelajaran, mulai dari cara guru mengajar hingga cara membangun relasi dengan peserta didik.

“Cinta tidak cukup hanya menjadi materi yang disampaikan, tetapi harus dihadirkan dalam cara guru mengajar, cara guru berkomunikasi, cara guru memberikan asesmen, cara guru memperlakukan peserta didik, dan cara guru membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan menyenangkan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, guru memiliki posisi strategis dalam memastikan nilai-nilai KBC benar-benar dirasakan oleh peserta didik dalam pengalaman belajar sehari-hari. Karena itu, penguatan kompetensi guru menjadi salah satu kunci agar Kurikulum Berbasis Cinta tidak berhenti pada tataran dokumen, tetapi dapat diwujudkan dalam praktik pembelajaran.

Perkuat Pemahaman hingga Praktik Pembelajaran

Kegiatan pendampingan dirancang secara komprehensif, mulai dari penguatan paradigma hingga praktik penyusunan perangkat pembelajaran berbasis cinta. Materi pertama membahas paradigma dan filosofi Kurikulum Berbasis Cinta sebagai landasan bagi guru dalam memahami arah dan tujuan implementasi KBC.

Selanjutnya, peserta mendapatkan materi “Memahami Anak dengan Cinta: Psikologi Perkembangan Anak SD/MI sebagai Fondasi Pembelajaran Humanis.” Materi ini menekankan pentingnya pemahaman terhadap karakteristik dan tahapan perkembangan anak sebagai dasar bagi guru dalam membangun pembelajaran yang humanis, sesuai kebutuhan, potensi, dan karakter peserta didik.

Pendampingan kemudian dilanjutkan dengan pembahasan konsep dan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, integrasi nilai-nilai cinta dalam KBC, serta strategi implementasi KBC dalam pembelajaran. Melalui materi tersebut, guru diarahkan untuk memahami bagaimana nilai-nilai cinta dapat diintegrasikan secara sistematis dalam proses pembelajaran, bukan sekadar menjadi tambahan di luar kegiatan akademik.

Aspek perencanaan pembelajaran juga menjadi perhatian melalui materi penyusunan kurikulum berbasis cinta. Guru didampingi untuk mengembangkan perencanaan yang selaras antara tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, asesmen, serta nilai-nilai cinta yang hendak ditumbuhkan pada peserta didik.

Guru Praktik Menyusun Modul Ajar Berbasis Cinta

Bagian penting dalam kegiatan pendampingan adalah praktik penyusunan modul ajar berbasis Kurikulum Berbasis Cinta. Para guru memperoleh pendampingan dalam menyusun modul ajar pada beberapa mata pelajaran, yaitu Matematika, IPA, PKn, Bahasa Indonesia, Fiqh, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (Penjaskes).

Pada penyusunan Modul Ajar Matematika KBC, guru diarahkan untuk merancang pengalaman belajar matematika yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep dan keterampilan berhitung, tetapi juga dapat menumbuhkan sikap saling menghargai, kerja sama, ketekunan, tanggung jawab, dan kepedulian.

Sementara itu, Modul Ajar Bahasa Indonesia KBC diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa sekaligus membangun komunikasi yang santun, empatik, dan positif. Pada Modul Ajar Fiqh KBC, nilai-nilai cinta diintegrasikan dengan pembelajaran keagamaan sehingga peserta didik tidak hanya memahami konsep dan aturan, tetapi juga mampu menghayati nilai kasih sayang, kepedulian, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama.

Adapun dalam penyusunan Modul Ajar Penjaskes Kurikulum Berbasis Cinta, guru didorong untuk menciptakan aktivitas pembelajaran yang membangun sportivitas, kerja sama, saling menghargai, disiplin, dan kepedulian terhadap kesehatan serta keselamatan diri dan orang lain.

Melalui praktik tersebut, guru tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual tentang KBC, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam menerjemahkan nilai-nilai cinta ke dalam perangkat dan aktivitas pembelajaran.

Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Madrasah

Kegiatan PkM ini menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan madrasah dalam menjawab kebutuhan pengembangan kompetensi guru. Dosen PGMI berkontribusi melalui kepakaran akademik dan pengalaman pembelajaran, sementara guru memberikan pengalaman praktis dan konteks nyata mengenai dinamika pembelajaran di madrasah.

Keterlibatan mahasiswa PGMI juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Melalui keterlibatan langsung dalam PkM, mahasiswa mendapatkan pengalaman untuk memahami persoalan pendidikan secara nyata sekaligus mengembangkan kemampuan kolaborasi, komunikasi, dan keterampilan profesional sebagai calon guru madrasah ibtidaiyah.

Bagi Prodi PGMI FTIK UIN Jurai Siwo Lampung, kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata pelaksanaan tridharma perguruan tinggi sekaligus upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap peningkatan mutu pendidikan madrasah.

Melalui pendampingan yang mengintegrasikan paradigma, filosofi, psikologi perkembangan anak, konsep, strategi implementasi, penyusunan kurikulum, hingga pengembangan modul ajar, kegiatan ini diharapkan dapat membantu guru menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta secara lebih konkret dan kontekstual.

Pada akhirnya, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga membangun relasi yang positif, rasa aman, empati, penghargaan, kepedulian, dan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik di madrasah ibtidaiyah.