Tadris IPS Ajak Mahasiswa Memahami Perubahan Sosial Masyarakat di Era Digital

Metro,– Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Jurai Siwo Lampung menggelar Kuliah Dosen Tamu dan Tenaga Ahli secara daring melalui Zoom Meeting, Sabtu (12/09/2026). Kegiatan yang diikuti mahasiswa Tadris IPS angkatan 2024 dan 2025 tersebut mengangkat tema “Transformasi Sosial Masyarakat Digital: Perspektif, Tantangan, dan Peran Pendidikan Sosiologi.” Hadir dalam kegiatan tersebut Dekan FTIK Dr. Siti Annisah, M.Pd., Ketua Prodi Tadris IPS Anita Lisdiana, M.Pd., dan Sekretaris Prodi Atik Purwasih, M.Pd.

Kegiatan ini menghadirkan Nindita Fajria Utami, M.Pd., dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Melalui kuliah dosen tamu ini, mahasiswa diajak melihat perubahan sosial yang terjadi seiring dengan semakin dekatnya teknologi dengan kehidupan sehari-hari. Pembahasan tidak hanya melihat perkembangan teknologi, tetapi juga perubahan kebiasaan dan cara masyarakat berinteraksi.

Ketua Prodi Tadris IPS Anita Lisdiana, M.Pd., mengatakan bahwa perkembangan teknologi perlu diikuti dengan kemampuan membaca perubahan sosial. Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan teknologi juga membawa perubahan terhadap nilai dan norma yang hidup di masyarakat. Karena itu, perkembangan digital perlu disikapi tanpa meninggalkan budaya lokal yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.

“Teknologi seharusnya tidak membuat generasi muda melupakan budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat. Budaya lokal perlu terus dilestarikan dan diperkenalkan agar tetap memiliki nilai di tengah perubahan zaman,” ujarnya.

Dekan FTIK Dr. Siti Annisah, M.Pd., juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai kesempatan memperluas wawasan. Ia menilai mahasiswa Tadris IPS perlu memiliki kemampuan membaca perubahan yang terjadi di masyarakat karena nantinya mereka akan berhadapan langsung dengan peserta didik yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi.

Ia juga mengingatkan pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kepekaan terhadap informasi yang beredar di ruang digital serta memahami keberagaman dan toleransi. Hal tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum menjalankan perannya sebagai calon guru IPS.

Dalam pemaparannya, Nindita membahas perubahan yang muncul ketika teknologi mulai menjadi bagian dari kehidupan sosial. Ia mengajak mahasiswa melihat berbagai hal yang sebenarnya dekat dengan keseharian mereka, seperti cara berkomunikasi melalui WhatsApp, kebiasaan berbelanja, mencari informasi, hingga cara seseorang membangun identitas di media sosial.

Sejumlah fenomena digital juga dibahas dari sudut pandang sosiologi. WhatsApp misalnya, tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi ruang terbentuknya kebiasaan dan norma baru. TikTok dibahas melalui persoalan algoritma dan kekuasaan, sementara FOMO dikaitkan dengan pola konsumsi dan pembentukan identitas. Penggunaan ChatGPT turut menjadi bagian pembahasan dalam kaitannya dengan perkembangan pengetahuan dan pendidikan.

Pembahasan mengenai fenomena viral juga menarik perhatian mahasiswa. Nindita menjelaskan bahwa sebuah informasi dapat menyebar dengan cepat karena dipengaruhi algoritma dan respons pengguna. Dalam kondisi tersebut, konteks menjadi penting karena informasi yang benar sekalipun dapat dipahami secara berbeda ketika diterima tanpa penjelasan yang utuh. Literasi digital dibutuhkan agar masyarakat tidak hanya ikut menyebarkan informasi, tetapi juga mampu memahami dan memeriksanya.

Suasana kuliah kemudian berkembang melalui diskusi bersama mahasiswa. Berbagai pertanyaan dan tanggapan disampaikan dengan mengaitkan materi dengan pengalaman mereka di media sosial. Diskusi ini membuat pembahasan tentang transformasi sosial terasa dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Melalui kuliah dosen tamu ini, mahasiswa Tadris IPS mendapat kesempatan untuk melihat perubahan teknologi dari sisi sosial dan pendidikan. Pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam membaca persoalan di masyarakat sekaligus mempersiapkan diri sebagai calon guru IPS yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan kepekaan terhadap lingkungan sosial dan budaya.