
Banjarmasin – Forum Dekan Tarbiyah (FORDETAK) kembali menjadi ruang strategis bagi para pimpinan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia untuk membahas berbagai persoalan pendidikan tinggi Islam yang krusial dan membutuhkan respons bersama.
Kegiatan FORDETAK tahun 2026 dilaksanakan pada 12–14 Agustus 2026 di Galaxy Hotel Banjarmasin, Jalan Ahmad Yani KM 2.5 No. 138, Banjarmasin Tengah, Kalimantan Selatan. UIN Antasari Banjarmasin bertindak sebagai tuan rumah penyelenggaraan FORDETAK tahun ini.

Forum tersebut diikuti oleh jajaran pimpinan FTIK PTKIN se-Indonesia, yang terdiri atas Dekan, Wakil Dekan Bidang Akademik (Wakil Dekan I), Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum dan Keuangan (Wakil Dekan II), Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama (Wakil Dekan III), serta Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU). Kehadiran para pimpinan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas PTKIN dalam merespons perubahan dan tantangan pendidikan tinggi secara bersama.
Salah satu peserta aktif dalam FORDETAK 2026 adalah Dekan FTIK UIN Jurai Siwo Lampung, Dr. Siti Annisah, M.Pd. Kehadiran Dr. Siti Annisah menjadi bagian dari kontribusi FTIK UIN Jurai Siwo Lampung dalam forum nasional yang mempertemukan para pimpinan fakultas tarbiyah untuk bertukar gagasan, pengalaman, serta merumuskan strategi penguatan kelembagaan.

Penurunan Mahasiswa Baru Menjadi Persoalan Strategis Nasional
Salah satu persoalan penting yang menjadi perhatian forum adalah penurunan jumlah mahasiswa baru di sejumlah perguruan tinggi. Persoalan tersebut dipandang tidak semata-mata sebagai persoalan teknis penerimaan mahasiswa baru (PMB), melainkan sebagai persoalan strategis nasional yang berkaitan dengan keberlanjutan kelembagaan, mutu pendidikan, daya saing program studi, serta masa depan pendidikan tinggi keagamaan Islam.
Penurunan jumlah mahasiswa baru harus ditempatkan sebagai persoalan strategis nasional, karena berkaitan dengan keberlanjutan program studi, penguatan kelembagaan, mutu pendidikan, daya saing perguruan tinggi, serta masa depan pendidikan tinggi keagamaan Islam. Karena itu, respons terhadap penurunan mahasiswa baru tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan promosi PMB. Diperlukan strategi yang lebih komprehensif melalui tiga jalur yang berjalan secara simultan, yakni kebijakan dan advokasi, peningkatan mutu dan tata kelola, serta penguatan daya tarik dan positioning program studi.

Pertama, penguatan Kebijakan dan Advokasi. FORDETAK perlu diperkuat sebagai wadah strategis untuk menyuarakan aspirasi sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan pendidikan tinggi Islam pada tingkat nasional. Sejumlah isu penting, seperti PPPK, Pendidikan Profesi Guru (PPG), dan kebijakan PMB, menjadi bagian yang perlu mendapatkan perhatian dan advokasi bersama.
FORDETAK diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi mampu menghasilkan gagasan dan rekomendasi yang dapat dikomunikasikan kepada pemangku kebijakan sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi dan keberlanjutan FTIK PTKIN.

Kedua, penguatan Mutu dan Tata Kelola. Perguruan tinggi perlu menjadikan tantangan penurunan mahasiswa sebagai momentum untuk melakukan pembenahan internal. Penguatan sumber daya manusia, peningkatan jumlah dan kualitas Guru Besar, penguatan akreditasi, pengembangan kurikulum yang relevan, peningkatan keunggulan program studi, serta penguatan tata kelola akademik menjadi agenda yang tidak dapat ditunda.
Program studi harus memiliki keunggulan yang jelas dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta perkembangan dunia pendidikan. Mutu menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat dan meningkatkan daya saing perguruan tinggi.
Ketiga, Penguatan Daya Tarik dan Positioning Program Studi. Setiap perguruan tinggi perlu memperjelas keunggulan masing-masing program studi sehingga memiliki identitas yang kuat dan mudah dikenali oleh calon mahasiswa serta masyarakat.
Penguatan basis madrasah dan sekolah juga menjadi langkah penting melalui perluasan kemitraan, kegiatan akademik, pengabdian, kompetisi, seminar, pelatihan, dan berbagai program kolaboratif. Strategi tersebut dapat memperkuat hubungan antara PTKIN dengan ekosistem pendidikan sekaligus memperluas basis calon mahasiswa.
Selain itu, internasionalisasi perlu didorong secara lebih agresif. Perguruan tinggi perlu memperluas kerja sama internasional, mobilitas mahasiswa dan dosen, riset kolaboratif, publikasi ilmiah, serta berbagai program akademik yang memberikan pengalaman global kepada mahasiswa.

FORDETAK Perkuat Kolaborasi Antar-PTKIN
FORDETAK 2026 di Banjarmasin menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antarpimpinan FTIK PTKIN se-Indonesia. Kompleksitas persoalan pendidikan tinggi menuntut adanya kolaborasi, bukan hanya persaingan antarperguruan tinggi.
Persoalan penurunan mahasiswa baru, misalnya, memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek, mulai dari mutu program studi, relevansi lulusan, kebijakan pendidikan nasional, perubahan karakteristik generasi muda, hingga kemampuan perguruan tinggi membangun reputasi dan positioning di tengah kompetisi pendidikan tinggi yang semakin dinamis. Karena itu, arah pembahasan FORDETAK perlu ditempatkan dalam kerangka transformasi dan penguatan daya saing PTKIN, bukan sekadar bagaimana meningkatkan jumlah mahasiswa baru dalam jangka pendek.

Keikutsertaan aktif Dr. Siti Annisah, M.Pd. dalam FORDETAK 2026 juga menjadi bagian dari komitmen FTIK UIN Jurai Siwo Lampung untuk terus berkontribusi dalam forum nasional, memperluas jejaring kelembagaan, serta menyerap berbagai gagasan strategis bagi pengembangan fakultas dan program studi.
Melalui penguatan kebijakan dan advokasi, peningkatan mutu dan tata kelola, serta penguatan daya tarik dan positioning program studi, FORDETAK diharapkan mampu melahirkan langkah-langkah konkret dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi Islam.

Penyelenggaraan FORDETAK 2026 di UIN Antasari Banjarmasin pada akhirnya bukan hanya menjadi forum pertemuan para pimpinan FTIK PTKIN, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk membangun kesepahaman, memperkuat kolaborasi, dan merumuskan masa depan pendidikan tinggi Islam yang lebih adaptif, unggul, relevan, dan berdaya saing global.
