Kunjungan Desa Wisata Kampung Santan sebagai Referensi Berwirausaha

Yogyakarta, ftik.metrouniv.ac.id – Kuliah Kerja Lapangan (KKL) PAI IAIN Metro di hari ke-3 mengunjungi desa wisata kampung santan, di Desa Santan Guwosari Panjang, Yogyakarta. Rabu, (09/01). Kunjungan ini ditujukan sebagai referensi mahasiswa untuk berwirausaha sebagai pembekalan sebelum mengambil mata kuliah Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) untuk memberdayakan potensi yang ada nantinya.

Desa wisata kampung santan merupakan desa dengan potensi kerajinan batok kelapa yang dipelopori oleh Subhan Nur Taufik yang sudah dirintis sejak tahun 1992, dengan memanfaatkan batok kelapa yang dianggap tak berguna menjadi barang yang memiliki nilai jual tinggi.

Subhan Nur Taufik mengatakan di awal perintisan produk tempurung kelapa, masyarakat tak tertarik dan belum menganggapnya. Karena masyarakat hanya tertarik dengan produk dengan bahan keramik, plastik dan kulit. “Dan mungkin mereka tidak akan memakainya, karena sepertinya produk tempurung ini yang menggunakan adalah orang miskin, kembali ke zaman dahulu.” ujarnya. Saat ini, dengan kerja keras dan keuletan pemasaran produk kerajinan tempurung kelapa sudah merambah hingga pada pasar internasional.

Dalam rangkaian kegiatan ini Mahasiswa diajak keliling kampung untuk melihat-lihat desa wisata kampung santan, dilanjutkan dengan membuat kerajinan batok kelapa yang dibuat oleh mahasiswa sebagai cinderamata dari desa wisata kampung santan. Dr. Akla selaku Dekan FTIK IAIN Metro dalam sambutannya mengharapkan kegiatan ini menjadi awal jalinan kerjasama antara FTIK IAIN Metro dengan Pokdarwis di desa wisata santan. “Walaupun waktunya sangat singkat, tapi barangkali bisa terkenang dan berbagi ilmu. Mudah-mudahan nanti mahasiswa bisa mengambil manfaat dari kegiatan di sini,” ujar beliau.

Kepala Jurusan PAI, Muhammad Ali, M.Pd.I mengungkapkan kegiatan ini diharapkan dapat membekali mahasiswa sehingga saat praktek pengabdian masyarakat tidak hanya numpang tidur di tempat KPM, “Tetapi bisa memberdayakan masyarakat yang ada, mengeola potensi-potensi yang ada, yang tadinya itu tidak ada gunanya,” ungkapnya. Beliau juga menambahkan, KKL ini tak hanya mengunjungi edukasi tentang keagamaan saja, khusunya yang ada di kurikulum, tetapi mengunjungi dan mengasah potensi yang ada.