Metro, 22 Mei 2026 — Program Studi Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung kembali menghadirkan kegiatan akademik di luar perkuliahan melalui penyelenggaraan Kelas Olimpiade Matematika. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (22/5) ini menjadi salah satu upaya prodi dalam membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, analitis, kreatif, dan adaptif dalam menghadapi persoalan matematika tingkat lanjut.
Kelas Olimpiade Matematika ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang memiliki minat dalam pendalaman materi kompetisi sains, khususnya bidang matematika. Pada pertemuan kali ini, materi difokuskan pada pembahasan soal-soal olimpiade dalam ranah Aljabar, salah satu cabang matematika yang banyak menuntut ketelitian, kemampuan melihat pola, serta kekuatan penalaran logis.
Kegiatan bimbingan khusus tersebut dipandu langsung oleh dosen pembimbing bidang matematika, Dwi Laila Sulistiowati, M.Pd. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa soal olimpiade memiliki karakteristik yang berbeda dengan soal matematika reguler yang biasa ditemui dalam perkuliahan atau pembelajaran di kelas.

“Soal reguler pada umumnya hanya menguji pemahaman prosedural dan penerapan rumus secara langsung. Sebaliknya, soal olimpiade Aljabar menuntut kemampuan penalaran tingkat tinggi, manipulasi aljabar yang kreatif, serta kejelian dalam melihat pola tersembunyi untuk menemukan solusi yang efektif,” ujar Dwi Laila Sulistiowati, M.Pd.
Memasuki sesi inti, mahasiswa diajak untuk mengurai berbagai bentuk soal olimpiade Aljabar, mulai dari mengenali struktur soal, menentukan strategi penyelesaian, hingga memahami konsep dasar yang melandasi penggunaan suatu teorema atau teknik tertentu. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menemukan jawaban akhir, tetapi juga dilatih untuk membangun alur berpikir yang runtut, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Suasana kegiatan berlangsung aktif dan interaktif. Para mahasiswa diberikan lembar kerja berisi soal-soal olimpiade Aljabar, kemudian diminta untuk berdiskusi dalam kelompok kecil. Melalui diskusi tersebut, mahasiswa saling bertukar ide, menguji ketepatan langkah penyelesaian, serta membandingkan berbagai alternatif metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan satu persoalan matematika.
Sesi presentasi hasil diskusi menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan ini. Mahasiswa diberi kesempatan untuk menyampaikan pendekatan penyelesaian yang mereka gunakan, sementara peserta lain memberikan tanggapan, pertanyaan, maupun alternatif solusi. Pola pembelajaran ini tidak hanya melatih kemampuan menyelesaikan soal, tetapi juga membangun keberanian berargumentasi secara matematis.
