
Kalau kita bicara soal pembelajaran bahasa Inggris hari ini, rasanya sudah tidak cukup lagi kalau hanya fokus pada grammar, vocabulary, dan pronunciation. Mahasiswa sekarang hidup di tengah isu yang jauh lebih besar, yakni perubahan iklim, sampah plastik di mana-mana, banjir, deforestasi, dan krisis lingkungan yang makin terasa dampaknya. Dari sinilah gagasan Eco-ELT menjadi menarik untuk dibicarakan, terutama dalam konteks Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) UIN Jurai Siwo Lampung.
Sederhananya, Eco-ELT itu mengajak kita mengajar dan belajar bahasa Inggris sambil “melek lingkungan”. Bahasa Inggris tidak lagi berdiri sendiri sebagai mata pelajaran, tetapi menjadi alat untuk memahami, membicarakan, dan bahkan merespons persoalan lingkungan di sekitar kita. Jadi, mahasiswa tidak hanya belajar how to speak English well, tetapi juga what to speak about dan itu sesuatu yang bermakna.
Di prodi TBI UIN Jurai Siwo Lampung, Eco-ELT sebenarnya sangat mungkin diterapkan tanpa harus mengubah kurikulum secara drastis. Misalnya, dalam mata kuliah reading atau writing, teks yang digunakan bisa bertema lingkungan, misalnya tentang perubahan iklim, gaya hidup ramah lingkungan, atau kisah komunitas yang berhasil menjaga alamnya. Mahasiswa membaca, mendiskusikan, lalu menulis opini atau refleksi dalam bahasa Inggris. Tanpa disadari, kemampuan bahasa mereka berkembang, sekaligus kesadaran ekologisnya tumbuh.
Hal yang sama juga bisa terjadi di kelas speaking. Daripada sekadar latihan dialog umum, mahasiswa bisa diajak presentasi tentang masalah lingkungan di Lampung, seperti pengelolaan sampah, hutan, atau ekowisata lokal. Diskusinya jadi lebih hidup karena topiknya dekat dengan kehidupan mereka. Bahkan sering kali, mahasiswa jadi lebih berani bicara karena mereka merasa punya pengalaman dan pendapat sendiri.
Yang menarik, Eco-ELT juga cocok dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Mahasiswa TBI bisa diberikan tugas untuk membuat kampanye lingkungan dalam bahasa Inggris seperti poster digital, video pendek, konten media sosial, atau blog sederhana. Proyek seperti ini terasa relevan dengan dunia nyata dan sejalan dengan kebutuhan literasi digital mahasiswa. Mereka belajar bahasa, teknologi, dan kepedulian sosial dalam satu paket.
Kalau dikaitkan dengan institusi, Eco-ELT juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang menjadi ciri Kemenag dan UIN. Dalam Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah di bumi, yang artinya punya tanggung jawab menjaga alam, bukan merusaknya. Nilai ini bisa dengan sangat natural diintegrasikan dalam pembelajaran bahasa Inggris, misalnya lewat diskusi teks atau refleksi yang mengaitkan isu lingkungan dengan etika dan tanggung jawab moral.
Menerapkan Eco-ELT tentunya bukanlah tanpa tantangan. Tidak semua dosen mau mengaitkan materi bahasa dengan isu lingkungan, dan tidak semua mahasiswa akan tertarik. Tapi justru di sinilah proses belajar terjadi. Dengan diskusi, refleksi, dan pendekatan yang santai, Eco-ELT bisa tumbuh secara bertahap, bukan sebagai beban, melainkan sebagai warna baru dalam pembelajaran.
Eco-ELT di prodi TBI UIN Jurai Siwo Lampung seharusnya bukanlah sekadar tren atau jargon akademik. Ia adalah cara pandang baru bahwa belajar bahasa Inggris bisa sekaligus menjadi jalan untuk membangun kepedulian, kepekaan sosial, dan kesadaran lingkungan. Lulusan TBI nantinya diharapkan bukan hanya menjadi guru bahasa Inggris yang kompeten, tetapi juga pendidik yang membawa nilai-nilai keberlanjutan di kelas mereka.
Ditulis oleh: Much Deiniatur
