
Beberapa waktu terakhir, wacana tentang pengajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar kembali menjadi perbincangan. Ada yang mendukung karena dianggap sebagai kebutuhan zaman, tetapi ada pula yang khawatir anak-anak akan terbebani atau bahkan melupakan bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya. Lalu, sebenarnya perlukah bahasa Inggris diajarkan sejak kelas 3 SD?
Menurut saya, jawabannya adalah perlu, dengan catatan dilakukan secara tepat dan menyenangkan.
Kita hidup di era yang berbeda dengan dua atau tiga dekade yang lalu. Saat ini, anak-anak sejak usia dini sudah akrab dengan gawai, internet, YouTube, media sosial, hingga berbagai aplikasi permainan. Tanpa disadari, mereka sering menjumpai kata, frasa, bahkan instruksi dalam bahasa Inggris. Dalam kondisi seperti ini, memperkenalkan bahasa Inggris sejak kelas 3 SD bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan sebuah upaya untuk membantu mereka memahami dunia yang sedang mereka hadapi.
Usia siswa kelas 3 SD, sekitar delapan hingga sembilan tahun, merupakan masa yang sangat baik untuk belajar bahasa. Pada usia tersebut, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan tidak takut mencoba hal baru. Mereka lebih mudah meniru pelafalan, mengingat kosakata, dan belajar melalui lagu, permainan, maupun cerita. Karena itu, pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar seharusnya tidak berfokus pada hafalan rumus tata bahasa yang rumit, tetapi pada pengalaman belajar yang menyenangkan.
Bayangkan seorang anak yang mampu menyebutkan nama-nama benda di sekitarnya dalam bahasa Inggris, memahami instruksi sederhana, atau memperkenalkan dirinya kepada teman dari negara lain. Kemampuan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi fondasi penting bagi pembelajaran mereka di masa depan.
Tentu saja pengajaran bahasa Inggris sejak dini tidak boleh menggeser peran bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan maupun bahasa daerah sebagai identitas budaya. Justru ketiganya harus berjalan beriringan. Anak-anak dapat mencintai bahasa Indonesia, bangga terhadap bahasa daerahnya, sekaligus memiliki kemampuan berbahasa Inggris sebagai bekal menghadapi dunia global.
Tantangan terbesar sebenarnya bukan pada kapan bahasa Inggris diajarkan, melainkan bagaimana cara mengajarkannya. Banyak sekolah masih menghadapi keterbatasan guru, media pembelajaran, dan sumber belajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar. Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi sangat penting.
Sebagai salah satu program studi yang menyiapkan calon guru bahasa Inggris profesional, Prodi Tadris Bahasa Inggris (TBI) UIN Jurai Siwo Lampung memiliki tanggung jawab strategis dalam mendukung pengajaran bahasa Inggris sejak dini. Melalui kurikulum yang adaptif, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan program praktik mengajar mahasiswa, TBI dapat berkontribusi dalam menghasilkan guru-guru yang tidak hanya menguasai bahasa Inggris, tetapi juga memahami psikologi perkembangan anak dan metode pembelajaran yang kreatif.
Selain itu, dosen dan mahasiswa TBI dapat berperan aktif dalam memberikan pelatihan kepada guru sekolah dasar, mengembangkan media pembelajaran yang menarik, serta mendampingi sekolah-sekolah dalam merancang program English for Young Learners yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan demikian, pengajaran bahasa Inggris tidak sekadar menjadi mata pelajaran tambahan, tetapi menjadi sarana untuk membangun kepercayaan diri, kreativitas, dan kemampuan komunikasi anak sejak usia dini.
Di tengah semakin terbukanya dunia tanpa batas, kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi milik kalangan tertentu. Bahasa Inggris telah menjadi salah satu keterampilan dasar yang mendukung akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan peluang global. Oleh karena itu, memperkenalkan bahasa Inggris sejak kelas 3 SD merupakan langkah yang relevan dan visioner, selama dilakukan dengan pendekatan yang ramah anak dan didukung oleh guru yang kompeten.
Tujuan utama pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar bukanlah mencetak anak-anak yang fasih berbicara seperti penutur asli. Tujuan yang lebih penting adalah menumbuhkan keberanian untuk berkomunikasi, rasa ingin tahu terhadap dunia yang lebih luas, serta kesiapan menghadapi masa depan yang semakin global. Dan untuk mewujudkan hal tersebut, sinergi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan institusi pendidikan tinggi seperti Prodi Tadris Bahasa Inggris UIN Jurai Siwo Lampung menjadi kunci keberhasilannya.
oleh: Much Deiniatur
