
Berbicara tentang ekoteologi di kampus UIN, kita sebenarnya sedang membahas satu kesadaran penting: bahwa relasi manusia dengan alam bukan sekadar urusan teknis, tetapi juga urusan iman. Menjaga lingkungan bukan hanya tugas birokrat kampus atau unit sarana prasarana, melainkan bagian dari pengamalan nilai keislaman yang hidup dalam keseharian sivitas akademika.
Selama ini, banyak kampus UIN, termasuk UIN Jurai Siwo Lampung, sudah memulai langkah nyata melalui penanaman pohon, penghijauan, dan penataan ruang terbuka hijau. Ini langkah yang patut diapresiasi. Pohon bukan hanya memperindah kampus, tetapi juga simbol komitmen menjaga ciptaan Allah. Namun, jika ekoteologi berhenti pada kegiatan seremonial seperti menanam pohon, maka pesan teologisnya belum sepenuhnya meresap ke dalam perilaku harian warga kampus.
Masalahnya, dalam praktik sehari-hari, saya sering menjumpai lampu dan AC tetap menyala meskipun kampus sedang libur. Ruang-ruang kelas kosong, kantor tertutup, tetapi listrik terus mengalir tanpa fungsi. Pada saat yang sama, air kran di beberapa titik kampus juga banyak yang bocor, dibiarkan menetes berjam-jam bahkan berhari-hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan ekologi di kampus bukan hanya soal kurangnya program, tetapi lebih pada lemahnya kesadaran dan pengawasan terhadap hal-hal yang tampak sederhana.
Di sinilah gagasan mengelola “saklar” menjadi sangat relevan. Saklar listrik dan kran air adalah simbol paling konkret dari praktik ekoteologi. Lampu yang menyala di ruang kosong, AC yang terus bekerja tanpa manusia, dan air yang terbuang percuma adalah bentuk pemborosan (israf) yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai Islam. Dalam perspektif ekoteologi, pemborosan energi dan air bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual.
Mengelola saklar dan kran air bukan semata soal teknologi, melainkan soal etika dan iman. Mematikan lampu, AC, dan menutup kran setelah digunakan adalah bentuk tanggung jawab (amanah) sebagai khalifah fil ardh. Tindakan kecil ini mungkin tidak terlihat heroik, tetapi jika dilakukan secara kolektif, dampaknya sangat besar, baik bagi lingkungan maupun anggaran kampus.
Tentu saja, pendekatan struktural tetap diperlukan. Kampus dapat memasang stiker pengingat di dekat saklar dan kran, membuat SOP hemat energi dan air, melakukan pengecekan rutin terutama saat hari libur, serta memanfaatkan teknologi seperti timer, sensor otomatis, atau audit energi dan air. Namun, yang paling penting adalah membangun kesadaran teologis bahwa hemat listrik dan air adalah bagian dari ibadah sosial dan tanggung jawab keislaman.
Ekoteologi kampus pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak pohon yang ditanam, tetapi seberapa konsisten nilai Islam diwujudkan dalam tindakan kecil sehari-hari. Dari taman kampus yang hijau hingga ruang kelas yang gelap saat tidak digunakan, dari kran air yang tertutup rapat hingga kesadaran kolektif untuk tidak boros. Jika pohon sudah ditanam, maka langkah berikutnya adalah memastikan setiap saklar dan setiap kran di kampus UIN benar-benar “ditundukkan” oleh kesadaran iman. Karena menjaga bumi tidak selalu dimulai dari aksi besar sering kali ia bermula dari keberanian untuk peduli pada hal-hal yang tampak sepele.
Ditulis oleh: Much Deiniatur
